Laporan Utama
Eropa "Membara": Gelombang Demo Menolak Kebijakan Penghematan dan Kenaikan Biaya Hidup Melanda Prancis hingga Belgia
Dari Paris hingga Brussels, jutaan warga Eropa turun ke jalan menolak anggaran penghematan, pemangkasan pendidikan, dan beban hidup yang kian berat — sementara ribuan kilometer jauhnya, kabut asap karhutla Indonesia memicu ketegangan diplomatik dengan Malaysia.
Oleh Tim Redaksi Krisis Global • Diperbarui 17 Oktober 2026, 21:30 WIB
"KAMI INGIN HIDUP, BUKAN SEKADAR BERTAHAN HIDUP"
Ribuan demonstran memadati jantung kota Paris dan Brussels dalam aksi protes besar-besaran, Oktober 2026
Ilustrasi situasi: Aksi unjuk rasa massal di pusat kota Eropa, disusun berdasarkan laporan Kompas, Euronews, dan Le Monde.
PARIS / BRUSSELS — Benua Eropa tengah dilanda gelombang protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Di Prancis, gerakan "Mari Blokir Semuanya" yang lahir setelah pelantikan PM baru Sebastien Lecornu terus berkembang, sementara di Belgia, puluhan ribu warga menyerbu jalanan Brussels memprotes kebijakan penghematan pemerintahan PM Bart De Wever.
Krisis yang sama juga terjadi di Asia Tenggara — namun dengan wujud berbeda. Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memicu kemarahan publik Malaysia, desakan gugatan hukum internasional, hingga kritik pedas dari sejumlah politikus kondang Negeri Jiran.
Berikut rangkuman mendalam peristiwa-peristiwa yang mengguncang peta geopolitik dunia pekan ini.
.jpg)
PULUHAN RIBU DEMONSTRAN MEMADATI JALANAN BRUSSELS — 9 OKTOBER 2026
Unjuk Rasa • 9 Oktober 2026
Puluhan Ribu Warga Brussels Protes Kebijakan Pemerintah — Polisi: 30.000, Serikat Buruh: 50.000
Jelang pengumuman anggaran pemerintah, demonstran dari berbagai latar belakang — pekerja kereta api, guru, mahasiswa, pelajar, kelompok advokasi pengungsi, seniman, hingga pegawai negeri — memadati Brussel pada Jumat (9/10/2026). Mereka menolak kebijakan sosial-ekonomi pemerintahan PM Bart De Wever. Massa menuntut pemerintah memajak para penggahasil tertinggi ketimbang memangkas layanan kesehatan dan menaikkan PPN. Baca Selengkapnya →
LEBIH DARI 200 DITANGKAP — BENTROKAN DEMO DI BELGIA
Bentrokan • 9–14 Oktober 2026
Bentrokan Pecah di Brussels: Polisi Tembakkan Meriam Air dan Gas Air Mata, Lebih dari 200 Ditangkap di Liege
Ratusan pemuda berhadapan dengan polisi anti huru-hara di jalanan Brussels. Petugas menembakkan meriam air dan gas air mata setelah massa melempar batu dan petasan di dekat stasiun kereta pusat. Bentrokan terjadi di sela aksi mogok nasional menolak penghematan anggaran. Sebelumnya di kota Liege, lebih dari 200 orang ditangkap dan puluhan polisi terluka dalam aksi pelajar yang merusak sejumlah toko — terinspirasi aksi-aksi yang sama di Prancis. Baca Selengkapnya →
ANWAR IBRAHIM BUKA SUARA SOAL KABUT ASAP LINTAS BATAS
Politik Malaysia • 15–16 Oktober 2026
PM Anwar Ibrahim Buka Suara Usai Dikritik "Kurang Tegas" Hadapi Kabut Asap dari Indonesia
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menanggapi kritik yang menyebut pemerintahannya terlalu lunak menangani kabut asap lintas batas. "Kami sudah melakukan yang kami bisa," ujarnya kepada awak media di Kuala Lumpur. Namun desakan publik terus meningkat: mantan Menteri Kesehatan Khairy Jamaluddin menilai pendekatan pemerintah "terlalu lunak", sementara anggota parlemen Lim Guan Eng mengancam akan mengusulkan gugatan hukum internasional terhadap Indonesia untuk menuntut ganti rugi. Baca Selengkapnya →
GUGUS TUGAS ASEAN ATAU GUGATAN HUKUM
ASEAN • 15 Oktober 2026
Lim Guan Eng Usul Gugus Tugas ASEAN, Sebut Malaysia "Tak Punya Pilihan" Selain Gugat Indonesia
Lim Guan Eng meminta pemerintahan Anwar mempertimbangkan langkah hukum terhadap Indonesia dan mengusulkan pembentukan gugus tugas permanen ASEAN yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Filipina. "Jika pemerintah Indonesia menolak gugus tugas ASEAN dengan alasan kedaulatan nasional, pemerintah Malaysia tak akan punya pilihan selain memulai tindakan hukum untuk menuntut ganti rugi," katanya di Dewan Rakyat. Sementara itu, Kepala Bakom RI Syahganda Nainggolan meminta Malaysia dan Singapura memahami situasi Indonesia. Baca Selengkapnya →
Telaah Redaksi
Satu Pola, Dua Benua: Ketika Kebijakan Fiskal Menjadi Pemicu Kerusuhan
Perhatikan polanya. Di Prancis dan Belgia, pemerintah menghadapi tekanan yang sama: utang publik yang membengkak memaksa kebijakan penghematan — dan rakyat menolaknya di jalanan. Di Indonesia, masalahnya bukan utang, melainkan lingkungan: karhutla yang berulang setiap tahun menimbulkan krisis lintas batas yang merusak hubungan diplomatik dengan dua tetangga terdekatnya.
Kedua krisis ini menunjukkan satu hal: legitimasi pemerintah di era modern sangat bergantung pada kemampuan menjaga kualitas hidup warganya — baik berupa layanan publik yang layak maupun udara yang bersih. Ketika keduanya terancam, jalanan menjadi ruang negosiasi terakhir.
Bagi Indonesia, tekanan Malaysia kali ini lebih tajam dari biasanya: ancaman gugatan hukum internasional dan usulan gugus tugas ASEAN menandakan kesabaran kawasan mulai menipis. Solusi jangka panjang bukan lagi pemadaman musiman, melainkan pencegahan struktural terhadap pembukaan lahan dengan cara dibakar.